"Islamic Quotes"

Minggu, Oktober 24, 2010

UMU AIMAN



 Umu Aiman adalah pengasuh Rasulullah, pengganti ibu yang sangat penyayang. Memang, adakalanya seorang anak yatim piyatu mendapatkan seorang pengasuh yang mencurahkan kasih sayangnya kepadanya. Wanita itu bisa tampil sebagai ibu yang penuh kasih, sebagaimana yang dilakukan umu Aiman terhadap Muhammad bin Abdullah. Kisahnya adalah:

                Ketika itu penduduk Makkah sedang berkemas menghadapi datangnya pasukan gajah (dari Ethiopia). Mereka menggalang kesatuan persatuan, hidup saling bahu membahu. Di tengah kesibukan mereka, Aminah binti Wahab mengisolasi diri (uzlah), ingin mendapatkan ketenangan hati. Ia ingin membahagiakan anak yang ada dalam kandungannya. Sayang, sang suami terlalu cepat pergi menghadap Yang Maha Kuasa, hingga si janin dalam kandungan terhalang dari kebahagian yang diharapkan Aminah. Ayah si janin, adalah Abdullah bin Abdul Muthalib, yang kelak menjadi ayah seorang bayi bernama Muhammad bin Abdullah.
                Walau keinginan Aminah tidak kesampaian, namun cahaya yang dilihatnya memancar jernih, hingga dapat membawa kebahagiaan dan dapat melupakan kepedihan hati ditinggal suami yang tengah menimpa dirinya.  Janin yang berada dalam kandungannya dirawat baik, hingga kemudia Allah menjadikan rasa kasih di dalam hati umat manusia. Merekapun lalu mengasi sayangi anak Aminah yang lahir dalam keadaan yatim.

                Umu Aiman adalah budak wanita kebangsaan Habasyah yang dimiliki Abdullah, yang kemudia menjadi warisan bagi anak yatimnya. Setiap kali Umu Aiman memandang si yatim, timbullah rasa kasih sayang yang mendalam dalam hatinya. Bahkan ia sangat mencintainya lalu ia asuh si yatim dengan penuh cinta kasih sebagaimana anak kandung sendiri. Melihat hubungan mesra antara Umu Aiman dengan si yatim, banyak wanita tukang menyusui yang merasa iri. Ingin memisahkan keduanya, dengan harapan si yatim bisa menjadi anak susuannya. Berada dalam pelukan sambil menetek air susunya.

                Situasi saat itu tidak menguntungkan. Persaingan untuk mendapatkan si yatim semakin ketat, hingga kemudia Umu Aiman memutuskan untuk membawanya ke daerah penggunungan, meninggalkan kota Makkah. Atas perpisahan ini, Aminah binti Wahab merasa sedih dan iba, namun tetap bersabar dan tabah menghadapi realita hidup. Dan, Aminah memang tipe wanita penyabar lagi tahan uji.

                Setelah beberapa tahun hidup di pegunungan, si bayi yang telah tumbuh dewasa kembali ke pangkuan ibu kandungnya, serta tetap diasuh oleh ibu asuhnya. Mereka hidup penuh kasih dan penuh kedamaian di kota Makkah.

Pada suatu hari Aminah binti Wahab membawa si yatim pergi ke yastrib, bersilahturahim dengan sanak famili yang berada di sana. Ia mengunjungi Bani Najar, yang merupakan rumpun keluarganya. Dalam kesempatan itu, Umu Aiman ikut serta, hingga si yatim menikmati kasih sayang dari dua hari yang mulia. Ibu kandung dan yang mengasuhnya.

Setelah dianggap cukup, Aminah segera kembali ke Makkah. Sayang, ketika kota Yastrib mereka tinggalkan begitu jauh, Aminah jatuh sakit. Dan ajalpun menjemputnya. Di desa Abwa’ Aminah dimakamkan. Suatu desa dimana suaminya Abdullah binti Abdul Muthalib jatuh sakit dan meninggal, lalu dimakamkan. Yakni pada suatu perjalanan pulang dari Yastrib ke Makkah bersamanya tempo dulu, ketika anak kesayangannya masih berada dalam kandungan.

Dengan meninggalnya Aminah binti Wahab, berarti si bocah (Muhammad) yang berada dalam pangkuan Umu AIman menjadi yatim piatu. Tiada berayah, tiada beribu. Ia tinggal bersama pengasuhnya, tiada orang lain. Lalu pulang ke Makkah menemui kakek dan paman-pamannya. Sejak waktu itu Umu Aiman berperan sebagai ibu. Mengasuh dan membimbingnya sewaktu kecil, ketika meningkat remaja dan setelah dewasa. Ketika si yatim telah menjadi manusia dewasa dan telah berumah tangga, maka kemudian Umu Aiman dimerdekakan serta dikembalikan hak-haknya sebagai manusia, hingga kemudian hidup secara layak.

Umu Aiman kemudian menikah dengan seorang penduduk Yastrib yang telah lama bermukim di Makkah. Ia hidup berumah tangga penuh kebahagiaan. Perjalanan waktu membuat semuanya berubah. Umu Aiman pergi ke Yastrib, meninggalkan Makkah bersama suaminya. Ia hidup di negeri kelahiran suami. Dalam perkawinannya dengan Ubaid, Umu Aiman dikaruniai seorang anak bernama Aiman. Setelah suaminya meninggal, Umu Aiman kembali kepada anak susuannya (Muhammad) bersama anak kandungnya. Umu Aiman dan anaknya (Aiman bin Ubaid) selanjtunya tinggal di Makkah, hidup di bawah naungan sang yatim yang pernah diasuhnya. Dan, Aiman bin Ubaid diperlakkukan sebagai adik kandung sendiri oleh Muhammad bin Abdulllah. Sebab, dalam kenyataannya mereka adalah saudara sesusuan.

Allah senantiasa menyempurnakan nikmat-Nya kepada si yatim. Ia tidak pernah melalaikan ibu asuhnya. Ia pernah mengungkapkan perasaan hati terhadap ibu asuhnya dengan kata-kata yang penuh kasih. “Ibu asuhku adalah keluarga rumahku yang masih tinggal.” (Kutipan dari Al-Waqidi sebagaimana tersebut dalam Kitab Al-Ishabah).

Rasulullah senantiasa berupaya untuk membahagiakan ibu asuhnya. Pada suatu ketika beliau bersabda kepada para sahabat, “Barangsiapa ingin menikahi wanita ahli surga, maka hendaklah ia menikahi Umu Aiman”. Mendengar sabda RAsulullah tersebut, Zaid bin Haritsah (mantan budak RAsulullah) segera menikahinya.
Ketika peristiwa hijrah ke Madinah, Umu Aiman terlibat pula di dalamnya. Sebab ia berkeinginan keras untuk selalu mendampingi orang yang paling dicintai, si yatim Muhammad bin Abdillah, yang telah diangkat sebagai Rasulullah. Dan, tiada yang memantapkan langkah Umu Aiman dalam perjalanan hijrah kecuali iman yang membara di dada. Ketika sampai di Madinah, Umu Aiman langsung disambut dengaan mesra oleh anak asuhnya. Lalu ia hidup berdampingan dengannya dengannya. Hari-harinya dilalui dengan penuh kebahagian, dan hampirs tidak pernah berpisah dengan anak asuhnya tersebut.

Pada waktu perang Uhud, Umu Aiman tampil dengan gagahnya bersama kaum muslimin. Ia berkeliling membawa air, memberi minum orang-orang yang terluka dan kepayahan. Dalam perang khaibar, ia juga hadir, memberikan semangat kepada kaum muslimin.

Di waktu senggang, Rasulullah kadang-kadang menyempatkan diri bergurau dengan Umu Aiman, ibu asuhnya. Sekalipun demikian, dalam gurauannya Rasulullah tidak pernah menyimpang dari haq. Yang beliau lontarkan adalah suatu gurauan yang tetap menyimpan mutiara-mutiara hikmah bagi yang mendengarnya.

Ketika Rasulullah menemui ajalnya, Umu Aiman menangis sejadi-jadinya. Ia sadar, bahwa wahyu sudah terputus. Anak yang dicintai dan dibelai dengan penuh kasih sejak kecil, kini telah tiada. Tinggal ajaran mulia yang dibawanya yang kekal sepanjang masa. Dan, ia pun bertekad untuk berpegang teguh kepada ajaran agama yang dibawa anak asuhnya hingga ajal menimpa.

Umu Aiman termasuk wanita yang dikaruniai usia panjang. Ia hidup dalam kedamaian, hingga menyaksikan kekhalifahan Umar bin Khatab. Ia meninggal pada masa permulaan pemerintahan Ustman bin Affan.

Ukhti muslimah, di atas adalah ilustrasi kehidupan Umu Aiman, mantan budak Rasulullah yang diwarisi dari ayahnya. Ia dimerdekakan ketika Rasulullah menikah dengan Khadijah binti khuwalid. Kemudian ia menikah dengan Ubaid bin Zaid, dan dikaruniai seorang anak bernama Aiman bin Ubaid. Anak lelaki Umu Aiman ini termasuk gigih dalam memperjuangkan agama, dan tercatat dalam deretan nama syuhada’ yang menegakkan panji-panji Islam. Ia gugur di medan perang Hunain.

Adalah Zaid bin Haritsah, mantan budak Khadijah binti Khuwalid, yang kemudian dihibahkan kepada Rasulullah lalu dimerdekakan. Ia yang menikahi Umu Aiman ketika Rasulullah menawarkan kepada para sahabat, “Barangsiapa ingin menikahi wanita ahli surga, maka hendaklah ia menikahi Umu Aiman”. Dari perkawinan ini, Umu Aiman dikaruniai seorang anak bernama Usamah bin Zaid.

Perlu dicatat, bahwa dalam perjalanan hidupnya, Umu Aiman mengikuti hijrah dua kali. Meriwayatkan hadis sebanyak lima buah. (Mukhtashar Siratir Rasul, karya Syaikh Abdullah An-Najdi, halaman : 12. Talqihu Fuhumi Ahlil Atsar, halaman: 4. Shahih Muslim 2;96).

Ukhti muslimah, barangkali di antara anda ada yang ingin mendapatkan informasi lebih lengkap perihal perjalanan hidup (biografi) Umu Aiman, mak dipersilahkan membaca kitab: Thabaqat Ibnu Sa’ad, Tarikh Thabari, Shahih Bukhari, dan Al-Ishabah karya Ibnu Hajar. Nah, itulah figur teladan yang telah mengantarkan seorang yatim menjadi utusan Allah. Menjadi seorang manusia paling sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar