Umu Aiman adalah pengasuh Rasulullah, pengganti ibu yang sangat
penyayang. Memang, adakalanya seorang anak yatim piyatu mendapatkan seorang
pengasuh yang mencurahkan kasih sayangnya kepadanya. Wanita itu bisa tampil
sebagai ibu yang penuh kasih, sebagaimana yang dilakukan umu Aiman terhadap
Muhammad bin Abdullah. Kisahnya adalah:
Ketika
itu penduduk Makkah sedang berkemas menghadapi datangnya pasukan gajah (dari
Ethiopia). Mereka menggalang kesatuan persatuan, hidup saling bahu membahu. Di tengah
kesibukan mereka, Aminah binti Wahab mengisolasi diri (uzlah), ingin
mendapatkan ketenangan hati. Ia ingin membahagiakan anak yang ada dalam
kandungannya. Sayang, sang suami terlalu cepat pergi menghadap Yang Maha Kuasa,
hingga si janin dalam kandungan terhalang dari kebahagian yang diharapkan
Aminah. Ayah si janin, adalah Abdullah bin Abdul Muthalib, yang kelak menjadi
ayah seorang bayi bernama Muhammad bin Abdullah.
Walau
keinginan Aminah tidak kesampaian, namun cahaya yang dilihatnya memancar
jernih, hingga dapat membawa kebahagiaan dan dapat melupakan kepedihan hati
ditinggal suami yang tengah menimpa dirinya.
Janin yang berada dalam kandungannya dirawat baik, hingga kemudia Allah
menjadikan rasa kasih di dalam hati umat manusia. Merekapun lalu mengasi
sayangi anak Aminah yang lahir dalam keadaan yatim.
Umu
Aiman adalah budak wanita kebangsaan Habasyah yang dimiliki Abdullah, yang
kemudia menjadi warisan bagi anak yatimnya. Setiap kali Umu Aiman memandang si
yatim, timbullah rasa kasih sayang yang mendalam dalam hatinya. Bahkan ia
sangat mencintainya lalu ia asuh si yatim dengan penuh cinta kasih sebagaimana
anak kandung sendiri. Melihat hubungan mesra antara Umu Aiman dengan si yatim,
banyak wanita tukang menyusui yang merasa iri. Ingin memisahkan keduanya,
dengan harapan si yatim bisa menjadi anak susuannya. Berada dalam pelukan
sambil menetek air susunya.
Situasi
saat itu tidak menguntungkan. Persaingan untuk mendapatkan si yatim semakin ketat,
hingga kemudia Umu Aiman memutuskan untuk membawanya ke daerah penggunungan,
meninggalkan kota Makkah. Atas perpisahan ini, Aminah binti Wahab merasa sedih
dan iba, namun tetap bersabar dan tabah menghadapi realita hidup. Dan, Aminah
memang tipe wanita penyabar lagi tahan uji.
Setelah
beberapa tahun hidup di pegunungan, si bayi yang telah tumbuh dewasa kembali ke
pangkuan ibu kandungnya, serta tetap diasuh oleh ibu asuhnya. Mereka hidup
penuh kasih dan penuh kedamaian di kota Makkah.
Pada suatu hari Aminah binti Wahab membawa si yatim
pergi ke yastrib, bersilahturahim dengan sanak famili yang berada di sana. Ia mengunjungi
Bani Najar, yang merupakan rumpun keluarganya. Dalam kesempatan itu, Umu Aiman
ikut serta, hingga si yatim menikmati kasih sayang dari dua hari yang mulia. Ibu
kandung dan yang mengasuhnya.
Setelah dianggap cukup, Aminah segera kembali ke
Makkah. Sayang, ketika kota Yastrib mereka tinggalkan begitu jauh, Aminah jatuh
sakit. Dan ajalpun menjemputnya. Di desa Abwa’ Aminah dimakamkan. Suatu desa
dimana suaminya Abdullah binti Abdul Muthalib jatuh sakit dan meninggal, lalu
dimakamkan. Yakni pada suatu perjalanan pulang dari Yastrib ke Makkah
bersamanya tempo dulu, ketika anak kesayangannya masih berada dalam kandungan.
Dengan meninggalnya Aminah binti Wahab, berarti si
bocah (Muhammad) yang berada dalam pangkuan Umu AIman menjadi yatim piatu. Tiada
berayah, tiada beribu. Ia tinggal bersama pengasuhnya, tiada orang lain. Lalu pulang
ke Makkah menemui kakek dan paman-pamannya. Sejak waktu itu Umu Aiman berperan
sebagai ibu. Mengasuh dan membimbingnya sewaktu kecil, ketika meningkat remaja
dan setelah dewasa. Ketika si yatim telah menjadi manusia dewasa dan telah
berumah tangga, maka kemudian Umu Aiman dimerdekakan serta dikembalikan
hak-haknya sebagai manusia, hingga kemudian hidup secara layak.
Umu Aiman kemudian menikah dengan seorang penduduk
Yastrib yang telah lama bermukim di Makkah. Ia hidup berumah tangga penuh
kebahagiaan. Perjalanan waktu membuat semuanya berubah. Umu Aiman pergi ke
Yastrib, meninggalkan Makkah bersama suaminya. Ia hidup di negeri kelahiran
suami. Dalam perkawinannya dengan Ubaid, Umu Aiman dikaruniai seorang anak
bernama Aiman. Setelah suaminya meninggal, Umu Aiman kembali kepada anak
susuannya (Muhammad) bersama anak kandungnya. Umu Aiman dan anaknya (Aiman bin
Ubaid) selanjtunya tinggal di Makkah, hidup di bawah naungan sang yatim yang
pernah diasuhnya. Dan, Aiman bin Ubaid diperlakkukan sebagai adik kandung sendiri
oleh Muhammad bin Abdulllah. Sebab, dalam kenyataannya mereka adalah saudara
sesusuan.
Allah senantiasa menyempurnakan nikmat-Nya kepada si
yatim. Ia tidak pernah melalaikan ibu asuhnya. Ia pernah mengungkapkan perasaan
hati terhadap ibu asuhnya dengan kata-kata yang penuh kasih. “Ibu asuhku adalah
keluarga rumahku yang masih tinggal.” (Kutipan dari Al-Waqidi sebagaimana
tersebut dalam Kitab Al-Ishabah).
Rasulullah senantiasa berupaya untuk membahagiakan ibu
asuhnya. Pada suatu ketika beliau bersabda kepada para sahabat, “Barangsiapa ingin menikahi wanita ahli surga,
maka hendaklah ia menikahi Umu Aiman”. Mendengar sabda RAsulullah tersebut,
Zaid bin Haritsah (mantan budak RAsulullah) segera menikahinya.
Ketika peristiwa hijrah ke Madinah, Umu Aiman terlibat
pula di dalamnya. Sebab ia berkeinginan keras untuk selalu mendampingi orang
yang paling dicintai, si yatim Muhammad bin Abdillah, yang telah diangkat
sebagai Rasulullah. Dan, tiada yang memantapkan langkah Umu Aiman dalam perjalanan
hijrah kecuali iman yang membara di dada. Ketika sampai di Madinah, Umu Aiman
langsung disambut dengaan mesra oleh anak asuhnya. Lalu ia hidup berdampingan
dengannya dengannya. Hari-harinya dilalui dengan penuh kebahagian, dan hampirs
tidak pernah berpisah dengan anak asuhnya tersebut.
Pada waktu perang Uhud, Umu Aiman tampil dengan
gagahnya bersama kaum muslimin. Ia berkeliling membawa air, memberi minum
orang-orang yang terluka dan kepayahan. Dalam perang khaibar, ia juga hadir,
memberikan semangat kepada kaum muslimin.
Di waktu senggang, Rasulullah kadang-kadang
menyempatkan diri bergurau dengan Umu Aiman, ibu asuhnya. Sekalipun demikian,
dalam gurauannya Rasulullah tidak pernah menyimpang dari haq. Yang beliau
lontarkan adalah suatu gurauan yang tetap menyimpan mutiara-mutiara hikmah bagi
yang mendengarnya.
Ketika Rasulullah menemui ajalnya, Umu Aiman menangis
sejadi-jadinya. Ia sadar, bahwa wahyu sudah terputus. Anak yang dicintai dan
dibelai dengan penuh kasih sejak kecil, kini telah tiada. Tinggal ajaran mulia
yang dibawanya yang kekal sepanjang masa. Dan, ia pun bertekad untuk berpegang
teguh kepada ajaran agama yang dibawa anak asuhnya hingga ajal menimpa.
Umu Aiman termasuk wanita yang dikaruniai usia
panjang. Ia hidup dalam kedamaian, hingga menyaksikan kekhalifahan Umar bin
Khatab. Ia meninggal pada masa permulaan pemerintahan Ustman bin Affan.
Ukhti muslimah, di atas adalah ilustrasi kehidupan Umu
Aiman, mantan budak Rasulullah yang diwarisi dari ayahnya. Ia dimerdekakan
ketika Rasulullah menikah dengan Khadijah binti khuwalid. Kemudian ia menikah
dengan Ubaid bin Zaid, dan dikaruniai seorang anak bernama Aiman bin Ubaid. Anak
lelaki Umu Aiman ini termasuk gigih dalam memperjuangkan agama, dan tercatat
dalam deretan nama syuhada’ yang menegakkan panji-panji Islam. Ia gugur di
medan perang Hunain.
Adalah Zaid bin Haritsah, mantan budak Khadijah binti
Khuwalid, yang kemudian dihibahkan kepada Rasulullah lalu dimerdekakan. Ia yang
menikahi Umu Aiman ketika Rasulullah menawarkan kepada para sahabat, “Barangsiapa ingin menikahi wanita ahli
surga, maka hendaklah ia menikahi Umu Aiman”. Dari perkawinan ini, Umu
Aiman dikaruniai seorang anak bernama Usamah bin Zaid.
Perlu dicatat, bahwa dalam perjalanan hidupnya, Umu
Aiman mengikuti hijrah dua kali. Meriwayatkan hadis sebanyak lima buah.
(Mukhtashar Siratir Rasul, karya Syaikh Abdullah An-Najdi, halaman : 12.
Talqihu Fuhumi Ahlil Atsar, halaman: 4. Shahih Muslim 2;96).
Ukhti muslimah, barangkali di antara anda ada yang
ingin mendapatkan informasi lebih lengkap perihal perjalanan hidup (biografi)
Umu Aiman, mak dipersilahkan membaca kitab: Thabaqat Ibnu Sa’ad, Tarikh
Thabari, Shahih Bukhari, dan Al-Ishabah karya Ibnu Hajar. Nah, itulah figur
teladan yang telah mengantarkan seorang yatim menjadi utusan Allah. Menjadi seorang
manusia paling sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar